Posted by: DS | February 1, 2010

PERANG MENCARI TUMBAL

Majalah Tempo — Inilah minggu-minggu terakhir Panitia Khusus Bank Century. Kursi Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Wakil Presiden Boediono jadi incaran. PDI Perjuangan berhati-hati. Golkar dan Demokrat yang berhadap-hadapan.

PERTARUNGAN yang ditunggu itu tak terjadi. Padahal, Selasa malam pekan lalu, sejumlah politikus sudah siap berjibaku. Rapat internal Panitia Khusus Hak Angket Bank Century malam itu berakhir datar. Rencana untuk membahas kesimpulan sementara atas penyelidikan Panitia batal. Kesimpulan yang dinanti-nanti itu tak jadi dirilis.

Adalah Ketua Panitia Khusus, politikus Partai Golkar Idrus Marham, yang sepekan sebelumnya bersemangat mengumumkan rencana Panitia merilis kesimpulan sementara. Publik, kata dia, perlu mendapatkan informasi apa saja temuan Panitia dari pemeriksaan puluhan saksi dan ahli, selama dua bulan terakhir. Gagasan ini didukung oleh politikus Fraksi Partai Hanura, Akbar Faizal. ”Kesimpulan sementara Panitia Khusus akan dilaporkan dalam Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat,” katanya menambahkan.

Selain menambah tensi politik, ada niat terselubung sebenarnya: pemetaan kubu lawan dan kawan. ”Kita perlu tahu ke mana arah penyelidikan Panitia ini, supaya kita tidak saling curiga,” kata Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Akbar Tandjung, dua pekan lalu. Dengan mengetahui tafsir masing-masing fraksi atas fakta temuan Panitia Khusus, Akbar berharap publik bisa meraba-raba bagaimana Pansus akan berakhir.

Selasa malam pekan lalu, banyak orang kecewa. ”Malam itu, usul membuat kesimpulan sementara hanya muncul dari Fraksi Hanura,” kata politikus Partai Persatuan Pembangunan, M. Romahurmuzy. Fraksi Golkar, yang semula getol mendesak penetapan rekomendasi sementara, mendadak jinak. Fraksi-fraksi lain diam seribu bahasa.

Malam itu Panitia Khusus hanya mendengarkan paparan tim ahli mereka tentang temuan data dan fakta kasus ini. Pada akhir rapat, semua bersepakat temuan Pansus ini masih prematur untuk disimpulkan. ”Apalagi ada data dan dokumen yang belum diberikan Menteri Keuangan dan Bank Indonesia,” kata politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Eva Kusuma Sundari.

Pertarungan malam itu pun batal. Padahal Fraksi Partai Demokrat sudah pasang kuda-kuda. Sejak awal mereka tidak sepakat Pansus mengambil kesimpulan sementara. Yang menarik, dukungan untuk sikap itu justru datang dari kubu oposisi. Selain Fraksi Banteng, Fraksi Partai Gerindra menyetujui. ”Kalau belum-belum sudah merilis kesimpulan, kesannya kurang elok,” kata Ahmad Muzani, politikus fraksi itu di Panitia Khusus. ”Nanti kami dikira mengirim sinyal untuk minta negosiasi,” katanya.

Negosiasi memang jadi perbincangan banyak orang di Senayan. Seorang politikus mengakui, ”Panggung politik Panitia Khusus sudah berakhir. Saatnya negosiasi di balik layar.” Peta politik pun bergeser. Yang berhadap-hadapan di tengah arena tinggal Partai Demokrat versus Partai Golkar, PDI Perjuangan, dan Partai Keadilan Sejahtera. Fraksi-fraksi yang lain menyingkir dan menanti di pinggiran.

”Kami akan menunggu bagaimana hasil deal mereka,” kata satu politikus anggota Panitia Khusus dari partai kecil. ”Percuma kalau sekarang ikut-ikutan berteriak, toh nanti hasilnya bisa berbelok ke kanan atau ke kiri,” katanya bersungut-sungut.

Kabar bahwa akan ada negosiasi untuk mengakhiri Pansus Century sebenarnya sudah kencang beredar sejak tiga pekan lalu. Semua berawal dari kabar pertemuan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, awal Januari. Keduanya, konon, berkomitmen menyelesaikan kisruh Century dengan mengorbankan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Meski sudah dibantah, kesan bahwa partai-partai siap bernegosiasi untuk mengakhiri Panitia Khusus Century tak bisa terhindarkan.

”Tujuan partai ya kekuasaan,” kata sumber Tempo di Panitia Khusus. Karena kursi kabinet sudah habis dibagi, kini tinggal kursi pejabat eselon satu di kementerian dan komisaris badan usaha milik negara yang jadi incaran. ”Masak semua mau dimakan Demokrat dan SBY?” katanya. Untuk menguatkan posisi tawar, berbagai pendekatan kini gencar dilakukan politikus Golkar dan Demokrat untuk menarik fraksi lain masuk ke gerbong mereka masing-masing.

Secara garis besar, ada tiga kelompok partai di Senayan saat ini. Kelompok pertama memastikan tidak ada yang salah dari kebijakan bailout Bank Century. Mereka beranggapan Sri Mulyani dan Wakil Presiden Boediono bersih dari tuduhan penyelewengan kewenangan. ”Tidak ada indikasi pidana, kesalahan administratif, dan korupsi,” kata Benny K. Harman, politikus Partai Demokrat, pentolan kubu ini. ”Justru yang kami temukan adalah proses pengambilan keputusan pada saat krisis, yang amat transparan, akuntabel, dan partisipatif.”

Kelompok kedua menilai ada indikasi pelanggaran administrasi dan pidana yang dilakukan Sri Mulyani dan Boediono, tapi mereka yakin pelanggaran tidak bermotif korupsi atau konflik kepentingan. ”Kasarnya, mereka dikadalin anak buahnya sendiri,” kata politikus Fraksi PPP, M. Romahurmuzy. Karena tidak punya motif korupsi—menurut kubu ini—kedua teknokrat tidak layak dijatuhkan.

Kelompok terakhir adalah kubu garis keras. Mereka yang berada di kelompok ini meyakini Sri Mulyani dan Boediono bersalah dalam penyelamatan Bank Century. Sri Mulyani diyakini bersalah karena menyetujui perubahan status Bank Century menjadi bank gagal berdampak sistemik, sedangkan kriteria berdampak sistemik—menurut kubu ini—tidak jelas.

Keputusan Sri itulah yang jadi dasar pengucuran dana Lembaga Penjamin Simpanan Rp 6,7 triliun untuk Century. Terlebih dana triliunan itu ditengarai bocor ke mana-mana, termasuk dirampok pemiliknya sendiri, Robert Tantular. ”Bank ini dirampok, kemudian kerugiannya ditutup dengan uang negara,” kata Akbar Faizal, politikus Fraksi Hanura, salah satu penyokong kubu ini.

Boediono dinilai bersalah karena mengubah peraturan Bank Indonesia tentang kriteria penerima Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) untuk menolong Bank Century. Dia juga dianggap berdosa karena tidak melakukan penelaahan menyeluruh (due diligence) pada Bank Century sebelum semua fasilitas pendanaan—dari FPJP sampai penyertaan modal sementara— digelontorkan. ”Boediono terlibat dan ikut meneken perubahan aturan, padahal Direktur Pengawasan Bank Indonesia sudah mengingatkan Bank Century tidak layak menerima bantuan,” kata politikus PDIP, Hendrawan Supratikno.

Di DPR saat ini ada yang sudah ambil posisi, ada pula yang memilih belum bersikap. Ahmad Farhan Hamid, politikus senior dari Fraksi Partai Amanat Nasional, memastikan partainya akan masuk ke gerbong Partai Demokrat di kelompok pertama. ”Kami di kubu realistis,” katanya. Farhan adalah pendukung utama Ketua Umum PAN Hatta Rajasa.

Partai Keadilan Sejahtera lain lagi posisinya. Mereka masuk ke kelompok ketiga. Posisi ini makin jelas ketika Rabu pekan lalu fraksi ini merilis kesimpulan sementaranya. Politikus Fraksi PKS, Andi Rahmat, menyebut ada empat lembaga negara yang harus bertanggung jawab atas proses bailout Century. ”Komite Koordinasi, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan,” kata Andi. Tidak hanya itu, PKS juga menemukan 18 indikasi pelanggaran pidana.

Partai Islam lainnya, Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, ada di tengah. Dalam kesimpulan akhirnya kelak, fraksi ini hanya akan menunjuk lembaga yang bertanggung jawab. Mereka tidak terang-terangan menyudutkan pejabat tertentu, entah itu Sri Mulyani entah Boediono. ”Itu wilayah penegak hukum,” kata politikus Fraksi PPP di Panitia Khusus, M. Romahurmuzy. ”Kami bukan hakim yang memutus perkara.”

Sikap tiga fraksi terbesar: Partai Demokrat, Golkar, dan PDI Perjuangan, terbelah. Demokrat ada di kelompok pertama. PDI Perjuangan, sebagai partai oposisi, ada di kelompok ketiga.

Partai Golkar? Di atas kertas, partai ini termasuk koalisi pendukung pemerintah, tapi untuk kasus Century, Beringin bermain di dua kaki. Elite partainya di Dewan Pimpinan Pusat berkali-kali menegaskan dukungannya pada pemerintah, sementara pasukan mereka di legislatif terus menyerang kebijakan penanganan Century.

Lalu Mara Satriawangsa, juru bicara Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie, membantah partainya memainkan politik dua wajah. ”Sikap Golkar tidak berubah, tetap menolak ada pemakzulan dan tidak menyerang orang per orang,” kata Lalu, Jumat pekan lalu.

Sehari sebelumnya, Fraksi Golkar merilis temuan sementara mereka. Bambang Soesatyo, ”jawara” Golkar di Panitia Khusus Century, menegaskan bahwa kesimpulan Golkar tidak berbeda dari temuan Badan Pemeriksa Keuangan. ”Ada pelanggaran hukum, ada rekayasa, dan terjadi penyalahgunaan wewenang dan jabatan sehingga berpotensi menimbulkan kerugian negara,” kata Bambang. ”Sekurang-kurangnya ada 58 kesalahan.”

Adapun yang bersalah, ”Dalam pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek dan bailout, ya Komite Stabilitas Sistem Keuangan,” kata Azis Syamsuddin, politikus Golkar lain di Panitia Khusus. Anggota Komite yang dimaksud hanya dua orang: Sri Mulyani dan Boediono.

Dengan peta ini, tidak sulit menebak bagaimana Panitia Khusus Century akan berakhir. Pertarungan pertama kubu pro dan anti-bailout akan terjadi dalam rapat final penentuan rekomendasi Panitia Khusus. Di sini kubu Demokrat diprediksi akan bertekuk lutut. Suara koalisi pemerintah—minus Golkar dan PKS—kalah. Mereka hanya punya 14 suara dari total 30 suara anggota Panitia Khusus. ”Kami tahu itu, karena itu kami akan minta minderheids nota. Keberatan kami harus dicatat,” kata politikus Partai Demokrat, Benny K. Harman.

Pertarungan berikutnya bakal terjadi di Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat. Sidang akan memutuskan menerima atau menolak rekomendasi Panitia Khusus. Di sini, lagi-lagi, kubu Demokrat bakal kesulitan. Tanpa Golkar dan PKS, suara mereka tak cukup banyak untuk menghadang laju gerakan kubu garis keras. Mereka hanya punya 259 suara dari total 560 suara anggota Dewan.

Pentingnya suara Golkar dan PKS bagi koalisi amat disadari oleh petinggi kedua fraksi itu. Karena itulah, sepanjang pekan lalu, sinyal-sinyal negosiasi dikirimkan. Golkar, menurut sumber Tempo, ingin dugaan pelanggaran pidana pajak yang dituduhkan Kementerian Keuangan kepada sejumlah perusahaan milik Bakrie senilai Rp 2 triliun ”diselesaikan baik-baik”. Jika Demokrat bersedia memenuhi permintaan itu, Golkar akan mundur dan memperlunak posisinya.

Demokrat sendiri membaca sinyal itu. Pekan lalu Achsanul Qosasi, politikus Demokrat di Komisi Keuangan yang juga anggota Panitia Khusus Century, menggagas pembentukan panitia kerja untuk menelusuri dugaan pelanggaran pidana pajak sejumlah perusahaan. ”Pertengahan pekan ini panitia sudah terbentuk,” katanya. Panitia kerja itu akan memanggil pemimpin perusahaan-perusahaan yang melanggar aturan pajak dan mendesak mereka memenuhi kewajibannya.

Meski Achsanul membantah pembentukan panitia kerja penyelewengan pajak itu ada kaitannya dengan perkembangan di Panitia Khusus Century, aroma perseteruan kencang tercium. Juru bicara Aburizal yang juga Wakil Sekjen Partai Golkar, Lalu Mara, menyesalkan perkembangan ini. ”Kasus pajak kok dipolitisasi?” katanya. Dia menekankan bahwa semua perusahaan Bakrie adalah perusahaan terbuka dengan manajemen profesional. ”Berbahaya kalau isu mikroekonomi seperti perselisihan pajak dibawa ke ranah politik,” katanya.

Melihat gelagat perang bubat Demokrat vs Golkar, PDI Perjuangan kini malah mundur teratur. ”Kami tidak mau terjebak permainan ini,” kata satu politikus Fraksi Banteng. ”Kami berfokus pada pengungkapan kasus Century saja,” katanya.

Uniknya, Partai Demokrat tetap percaya diri. Mereka merasa punya kartu truf. Untuk memakzulkan Boediono, parlemen harus meloloskan hak menyatakan pendapat, yang pembahasannya wajib dihadiri 75 persen anggota Dewan. ”Fraksi kami sendiri sudah 26 persen,” kata Benny Harman. ”Kami sendirian saja bisa memblok mereka,” katanya. Soal Sri Mulyani, Demokrat juga keras hati. ”Kalau ada rekomendasi menteri dicopot, itu namanya mosi tak percaya oleh parlemen,” kata Benny. ”Itu tidak dikenal dalam sistem presidensial.”

Source: Majalah Tempo


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: