Posted by: DS | February 1, 2010

Superioritas yang Tiba-tiba Kempis

Tempo — Diakui atau tidak, kamera-kamera televisi yang dipasang pada dinding ruang pemeriksaan Panitia Khusus Hak Angket Bank Century telah memberikan seserpih pencerahan dalam kehidupan politik kita. Lampu-lampu sorot, kamera, mikrofon, membuat proses itu seperti pertunjukan teater yang bisa dinikmati penonton televisi di rumah. Santai, sambil mengunyah pisang goreng.

Itulah reality show baru yang–apa boleh buat–mungkin akan berujung pada pengakuan: kita telah memilih wakil yang salah di Senayan. Dan kemungkinan ini akan jadi kenyataan bila pola investigasi Panitia dipertahankan seperti selama ini.

Pertama, lenyapnya tata krama seorang tuan rumah ketika menerima tamu yang akan memberikan testimoni: Wakil Presiden Boediono, Menteri Keuangan Sri Mulyani, bekas wakil presiden Jusuf Kalla. Kedua, penyelidikan yang mereka lakukan tak ubahnya suatu “interogasi”. Padahal hak angket adalah hak konstitusional DPR untuk melakukan penyelidikan atas dugaan skandal.

Tatkala para penonton sibuk membeda-bedakan “kebenaran politik” dari “kebenaran” di layar kaca, disengaja atau tidak, perlahan-lahan sebuah kontrol tak langsung terhadap politik elite parlemen berlangsung. Mandat hasil pemilihan memang di tangan wakil rakyat itu, namun hubungan seorang terpilih dengan konstituennya tidak dapat berhenti di titik ketika mereka disumpah sebagai anggota DPR.

Para konstituen terus menyimpan dalam ingatan: betapa penerima mandat itu gemar menunjukkan superioritas dirinya–seraya menempatkan diri layaknya jaksa penyidik menghadapi tersangka. Ingat apa yang terjadi tatkala mereka memeriksa seorang Raden Pardede, Sekretaris Komite Stabilitas Sistem Keuangan. Tak mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keinginan, mereka mengunci Raden, yang tampak gugup.

Raden gelagapan. Setap kali Raden hendak bicara, “sang jaksa” memotong kalimatnya cepat-cepat. Akibatnya, Raden yang bergelar doktor ini tak bisa menjawab secara jelas soal tindak lanjut surat Bank Indonesia yang bersifat rahasia namun seakan dengan mudah dicampuri oleh KSSK itu. Sesungguhnya banyak gaya bertanya bisa dikembangkan. Menggali bahan tidak tepat dilakukan dengan cara menghardik serta memaksa narasumber menjawab “ya” atau “tidak”.

Namun para penonton televisi juga tak bisa melupakan ketika arah angin tiba-tiba berubah. Rasa superioritas mereka sekonyong-konyong kempis ketika seorang koordinator nasabah Bank Century mengungkapkan uneg-uneg, membentak, menuding-nuding wakil ketua Gayus Lumbuun dan anggota Maruarar Sirait. Sang nasabah menampik ajakan Maruarar berjabatan tangan. Menenteng sebuah map berwarna merah, tidak seorang pun sanggup mencegah dia melanjutkan amarahnya. “Kami sudah bosan dengan kebohongan yang ada. Maling! Maling semua! Ada apa dengan BI dan Robert Tantular,” serunya.

Sebagian orang mengartikan ini “karma” atas perlakuan mereka terhadap para pejabat. Namun sebagian lagi menganggap rasa superioritas anggota Panitia Khusus, yang selama ini mencorong, telah hilang. Mungkinkah ini semacam toleransi terhadap korban? Yang jelas, pemahaman orang bisa beragam, termasuk munculnya rasa inferioritas ketika mereka menghadapi sosok yang tegas, tidak mengenal kompromi.

Panitia Khusus adalah panggung politik. Tapi sekarang kita tahu ia lebih mendekati bentuk sebuah reality show yang tak selalu bisa ditebak akhirnya. Dari layar kaca, kita–konstituen mereka yang “bertingkah” itu–menyaksikan semuanya, dengan pedih.

Source: Tempo Interaktif


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: